Magic Info

SAVE OUR FOREST, SAVE ORANG UTAN

Habitat satwa dilindungi Indonesia kini berubah menjadi blok-blok tanam. Foto: Lili Rambe

Foto ini adalah kondisi kerusakan hutan di Kalimantan Tengah hingga sebagian wilayah Kalimantan Timur. Greenpeace mencatat dari tahun 2000 hingga 2010 setidaknya 141.000 hektar hutan Kalimantan yang juga merupakan habitat Orangutan telah musnah.

Hampir di seluruh wilayah Kalimantan Tengah terdapat populasi Orangutan. Berdasarkan data Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) terdapat lebih dari 31.300 orangutan (pongo pygmaeus) yang menghuni wilayah Kalimantan Tengah.

Penyebab utama musnahnya hutan-hutan ini adalah perkebunan kelapa sawit.

BW Plantation dan KLK adalah penyuplai minyak sawit bagi perusahaan kosmetik, deterjen rumah tangga dari Amerika Serikat, P & G (Procter and Gamble). Produknya beredar di 180 negara dan memiliki 4,8 juta pengguna produk. Salah satu produk P & G yang cukup populer di Indonesia adalah shampoo Head & Shoulders dan krim cukur Gillette. Selama tahun 2012 hingga 2013 P & G menggunakan 462.000 ton olahan kelapa sawit sebagai bahan baku produknya.

Save Our Borneo (SOB), sebuah lembaga peduli lingkungan, menyatakan sekitar 80% kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan disebabkan ekspansi sawit oleh perusahaan besar.

“Kerusakan terbesar hutan di Kalimantan adalah karena pembukaan lahan untuk kelapa sawit, dan sisanya sebanyak 20% karena pertambangan, dan area transmigrasi,” Direktur Eksekutif Save Our Borneo, Nordin, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

SOB memaparkan, berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutan (deforestasi) telah mencapai 864 ribu hektare per tahun atau 2,16%. Jika deforestasi di Asia Tenggara terus berlanjut, sebanyak 75 persen dari hutan asli akan hilang pada 2030.

Kejora yang sedang belajar keterampilan hidup di Sekolah Hutan di Nyaru Menteng. Foto: BOSF/Indrayana

Deforestasi tetap menjadi ancaman utama kehidupan Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) selain perdagangan liar. Butuh kepedulian bersama menjaga Primata Indonesia ini tetap lestari.

Di Indonesia sebelumnya diduga hanya ada 2 spesies Orangutan: Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatra (Pongo abelii). Namun, baru ditemukan spesies lain: Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Populasi Orangutan berkurang 25 ekor setiap hari – Hutan hujan yang menjadi rumah mereka hancur untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit, menempatkan populasi Orangutan secara serius di bawah ancaman. Minyak sawit adalah bahan baku yang digunakan untuk membuat produk-produk untuk merek seperti Unilever, Mondelez dan Nestlé.

Induk dan dua bayi kembar Orangutan Tapanuli ditemukan di hutan Batang Toru, Tapanuli, Medan, Sumatera Utara. Kredit: SOCP

Musnahnya hutan yang menjadi habitat Orangutan akibat perkebunan sawit tentu saja tidak hanya berdampak langsung terhadap Orangutan tapi juga berdampak langsung pada perubahan iklim yang akan berakibat buruk pada kehidupan manusia. (Source: Mongabay.co.id, greenpeace.org)

Mari kita ajak anak-anak kita untuk mulai lebih peduli terhadap lingkungan, tanaman, dan hewan, terutama hewan-hewan atau spesies yang hampir punah (endangered species).

Bisa dimulai dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan yang menarik, seperti info di atas contohnya. Dan jelaskan pentingnya hutan/tanaman bagi alam, sehingga kita bisa merasakan udara yang bersih dan mendapatkan air, makanan, bahan untuk obat, dll. Mengingatkan anak untuk selalu buang sampah pada tempatnya, hemat dalam menggunakan air, listrik. Mengajak mereka mengunjungi taman nasional atau tempat-tempat swaka marga satwa, minta mereka agar memelihara hewan peliharaan dengan baik. Ikut dalam kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan, dll.

Buat para orang tua kurangi pemakaian minyak kelapa sawit 🙂 , dan jangan pernah membeli produk yang terbuat dari spesies yang terancam punah atau dilindungi. Katakan TIDAK pada barang dagangan yang terbuat dari satwa liar. Seperti telur penyu, kakak tua, atau obat-obatan yang terbuat dari satwa liar seperti badak, harimau, penyu, beruang hitam, dll. Apabila kita membeli berarti kita ikut mendukung pemusnahan satwa liar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *