Articles

MELATIH DISIPLIN PADA ANAK

Buat banyak orang tua melatih disiplin merupakan salah satu pembelajaran pada anak yang dirasakan sangat berat (termasuk saya sendiri). Kedekatan emosional kita dengan anak membuat nilai “ngga tega” menjadikan kita lemah dalam menerapkan disiplin pada anak. Membuat kita sulit untuk konsisten terhadap aturan-aturan atau batasan-batasan yang kita buat sendiri. Terkadang anak mencoba mengetes konsistensi kita dengan bujukannya, atau “kemanisannya”, atau dengan “kesedihannya” yang lantas membuat kita menjadi lemah dan berkata “ok kali ini ngga apa-apa” 🙂

Berawal dari “kali ini ngga apa-apa” akan terus berlanjut untuk kali berikutnya. Hal ini kemudian dijadikan anak sebagai senjatanya untuk memanipulasi kita, karena mereka merasa pernah berhasil 🙂 . Jadi kita harus meyakinkan diri kita dulu sebelum memberikan aturan pada anak, bahwa kita bisa “tega” untuk nantinya akan benar-benar menerapkan aturan tersebut. Bahwa kita akan memberikan konsekuensi sesuai yang kita sepakati dengan anak apabila anak kita melanggar aturan yang telah dibuat.

Misal aturan yang kita buat adalah: Aktivitas makan selalu dilakukan di meja makan. Apabila anak makan di tempat lain, misal anak kita makan siang di kamar, maka akan diberikan sanksi berupa tidak boleh menonton televisi dari jam 2-6 sore. Kalau anak melanggar aturan ini maka kita harus konsisten untuk menerapkan konsekuensinya. Hal ini akan membuat anak belajar bahwa kita sungguh-sungguh terhadap aturan yang kita buat.

Dalam membuat aturan serta konsekuensi nya kita perlu berdiskusi (berkompromi) dengan anak, ajak anak terlibat, sehingga mereka merasa aturan yang kita buat ini cukup adil dan tidak bertujuan untuk menyakiti mereka. Pasti dalam prosesnya akan ada tawar menawar antara kita dengan anak dalam membuat  aturan-aturan dan konsekuensi nya, tetapi disitu kita akan tau berarti anak kita mengerti aturan ini adalah untuk kebaikannya juga dan mereka tidak akan menyimpan sakit hati, atau takut, atau benci terhadap kita. Ingat juga untuk selalu menyampaikan pada anak bahwa tujuan kita melakukan ini adalah untuk melatih mereka berdisiplin.

Disiplin adalah salah satu cara untuk membantu anak kita belajar bersikap yang pantas (appropriate), belajar hidup teratur, belajar mengelola waktu, belajar untuk bisa mandiri. Semua hal ini akan sangat penting di dalam pergaulannya, baik saat ini maupun di usia dewasanya kelak. Untuk melatih disiplin akan lebih baik apabila kita punya hubungan yang dekat dengan anak kita. Kita bisa memberikan pengertian dengan penuh kasih sayang, akan lebih cepat tersampaikan pada anak.

Penerapan disiplin pada anak tidak bisa kita samakan untuk semua usia, harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan mereka, karena kemampuan menganalisa dan perkembangan emosi tiap tahapan berbeda.

Sejak dini kita bisa mulai dengan hal-hal mendasar, sebagai berikut:

  • Membuat aturan dalam keluarga:

– Kita harus berbicara yang sopan satu sama lain
– Kita harus saling peduli dan memperhatikan satu sama lain

– Kita harus saling menolong satu sama lain

*Kita bisa melibatkan anak yang sudah cukup usianya untuk menambah aturan ini

  • Ajarkan anak untuk berperilaku yang baik dengan cara memberi contoh, yaitu dengan melihat apa yang kita lakukan. Misal: bila kita ingin anak duduk sopan ketika makan dan menunjukkan table manner yang baik, maka kita harus mencontohkannya pada mereka saat makan bersama
  • Memberikan pujian (reward) ketika anak menunjukkan sikap yang baik. Yang berarti kita memotivasi atau encouraging mereka untuk selalu bersikap baik. Misal: “Chloe, ibu senang sekali kamu bilang terima kasih waktu ibu ngasih kamu mainan ini. Itu sikap yang sangat baik nak. Kamu hebat deh”
  • Tetapkan batasan dan konsekuensi nya. Apabila kita selalu konsisten dalam menerapkan batasan dan konsekuensi nya, maka anak akan mengerti bahwa kita bersungguh-sungguh, dan mereka tau apa yang diharapkan dari mereka, atau bagaimana mereka harusnya bersikap. Lama kelamaan mereka akan terbiasa untuk hidup lebih teratur dan selalu bersikap baik.

Terakhir saya ingin mengingatkan bahwa punishment berupa hukuman fisik bukan lah cara yang baik untuk mengajarkan anak bagaimana seharusnya bersikap. Ketika orang tua melakukan hukuman secara fisik kepada anak maka anak akan malah semakin merasa tertantang untuk bersikap melawan orang tuanya, menjadi memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, atau bisa sampai depresi. Karena hukuman fisik itu menyakiti anak kita, baik fisik maupun mentalnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *