Articles

IBU ADALAH PENENTU BAGI ANAK

Saya menikah pada tahun 2005, lalu anak saya lahir di tahun 2006. Selama 9 bulan masa kehamilan saya banyak membaca buku-buku tentang bayi dan balita, vaksinasi pada anak, psikologi anak, fase-fase tumbuh kembang anak. toilet training bagi toddler, dan banyak buku lainnya yang memberikan informasi mengenai bagaimana atau apa saja yang perlu kita ketahui, kita persiapkan, dan kita lakukan agar menjadi orang tua yang mampu membesarkan anak menjadi seorang manusia dengan kualitas terbaik. Seorang manusia yang bisa bermanfaat bagi banyak manusia lainnya. Manusia yang bisa membawa banyak kebaikan di muka bumi ini.

Saya ingin mengingatkan bahwa sebenarnya tidak ada lagi alasan apabila kita sudah menjadi calon ibu tetapi masih banyak ketidaktahuan atau tidak mengerti bagaimana cara mengasuh bayi dan membesarkannya dengan baik, karena begitu banyak cara untuk kita mencari tau berbagai informasi yang kita butuhkan, apalagi sekarang dengan era internet yang sangat mudah diakses. Memang hal yang menjadi sangat signifikan disini adalah persiapan mental kita untuk menjadi orang tua. Sekali kita memutuskan untuk menjadi orang tua, maka kita harus siap untuk mengorbankan banyak hal yang mungkin tidak akan bisa kita lakukan lagi di saat sudah memiliki anak. Kebebasan dari segi waktu akan menjadi sangat terbatas, lalu ke mana pun kita pergi, apapun yang kita lakukan, kita tidak akan pernah tidak memikirkan anak-anak kita. Misal saat kita keluar bersama teman-teman, kita tidak akan bisa lagi tanpa sebentar-sebentar melihat ke jam tangan, atau menelepon ke rumah menanyakan anak kita. Mereka akan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap hal atau keputusan yang kita buat. Lalu perubahan kita secara fisik sudah pasti dirasakan oleh semua yang sudah memiliki anak 🙂 , dari bentuk tubuh, warna kulit di beberapa bagian tubuh, dan perubahan fisik lainnya yang tiap orang bisa berbeda-beda kondisinya.

Menjelang kelahiran anak saya, saya memutuskan untuk berhenti bekerja, karena ingin sepenuhnya waktu saya untuk mengasuh anak sendiri secara total dengan idealisme saya. Mengasuh anak sendiri dalam arti benar-benar saya sendiri yang merawat dan mengurus seluruh kebutuhan anak saya. Di rumah saya mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga, yang saya butuhkan untuk melakukan pekerjaan kebersihan dan kerapian rumah dan pakaian. Saya termasuk orang yang cukup perfeksionis untuk masalah bersih-bersih dan kerapian (anak saya menyebutnya “you have an OCD mom” 🙂 ), karena itu saya berpikir kalau saya akan mencurahkan sebagian besar waktu saya untuk anak maka harus ada orang yang membantu saya untuk urusan bersih-bersih dan rapi-rapi rumah. Jadi pembantu rumah tangga bukan bekerja untuk mengasuh anak melainkan untuk urusan rumah, agar waktu saya bisa full untuk anak saya. Mengapa saya sangat bertekad untuk mengasuh anak sendiri? Akan saya tuliskan lebih detail di artikel selanjutnya tentang idealisme saya.

Perlu diketahui bahwa kecerdasan seorang anak menurun lebih besar dari ibu nya. Gen kecerdasan terletak di kromosom X, dan perempuan membawa dua kromosom tersebut (XX). Sementara laki-laki hanya satu kromosom X dan sisanya adalah kromosom Y (XY).

Karena perempuan membawa dua kromosom X, maka bisa dipastikan kalau anak-anak memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mendapatkan kecerdasan dari sang ibu. Apalagi buat anak laki-laki, karena dia hanya membawa satu kromosom X saja. Jadi ingatlah para ibu bahwa kita berperan penting menurunkan kecerdasan pada anak-anak kita. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri dan menjadi seorang ibu yang cerdas untuk anak kita.

“Gen kecerdasan dari ayah secara langsung akan segera dinonaktifkan mengingat kromosom X yang lebih banyak dari sang ibu. Sementara itu, gen lainnya baru didominasi oleh laki-laki,” tulis penelitian dari Psychology Spot.

Penelitian yang juga mendukung fakta ini dilakukan oleh The Medical Research Council Social and Public Health di Amerika Serikat, yang melakukan penelitian pada ibu-ibu pada tahun 1994. Uji tes ini dilakukan dengan mewawancarai 12.686 anak muda berusia 14 hingga 22 tahun. Pertanyaan mereka berfokus pada IQ, ras, pendidikan dan sosial ekonomi anak. Ditemukan hasilnya bahwa seorang ibu adalah faktor kuat dari kecerdasan intelektual anaknya.

Chloe Saat Usia 9 Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *