Articles

MENYIKAPI USIA REMAJA / TEENAGERS

Usia remaja dikatakan banyak orang sebagai usia paling penuh cobaan bagi orang tua. Seorang psikolog Amerika Serikat bernama Stanley Hall mengatakan: “Masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan stress (Storm and Stress). Karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib sendiri. Kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab. Tetapi kalau tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik.”

Tentunya kita tidak menginginkan topan badai tersebut terjadi dalam rumah kita, karena itu perlu persiapan-persiapan yang kita lakukan sebagai orang tua. Pertama adalah memperkaya diri tentang apa saja yang akan terjadi pada anak kita ketika mereka memasuki usia remaja tersebut. Usia remaja disebut juga dengan usia pubertas.

Di masa pubertas ini akan terjadi beberapa perubahan fisik pada anak-anak kita. Pada anak laki-laki mulai tampak jakun nya, suara nya mulai pecah, mulai tumbuh bulu halus seperti kumis, otot-otot mulai membesar. Pada anak perempuan payudara mulai membesar, panggul membesar, mulai tumbuh bulu-bulu seperti bulu ketiak, dll. Tanda lainnya adalah pada anak laki-laki mulai mengalami mimpi basah (usia 10-14 tahun), dan anak perempuan mulai haid (usia 9-13 tahun). Pertumbuhan hormonal yang meningkat di masa remaja ini juga mempengaruhi suasana hati anak, banyak anak menjadi lebih mudah emosi bila bicara, lebih mudah menarik diri bila mood nya berubah, dan mood swing lainnya. Hal-hal ini perlu kita ketahui agar kita orang tua bisa lebih sabar dan lebih bijak dalam menghadapi atau saat berbicara dengan mereka, karena masa remaja ini sangat rawan, mereka bisa memutuskan suatu hal yang akan berpengaruh pada masa depannya nanti.

Pada gambar yang kiri ini anak saya berusia 6 tahun yang masih selalu ingin menempel dan pelukan dengan saya, sementara di gambar sebelahnya dia sudah berusia 12 tahun dan tidak mau lagi berfoto dengan pelukan bahkan tidak mau pegangan tangan 🙂


Anak-anak pada masa remaja ini merasa sudah “besar” dan tidak mau lagi diperlakukan seperti anak-anak, mereka merasa malu apabila terlihat di depan teman-temannya atau orang lain bahwa mereka masih diperlakukan seperti anak-anak. Hal ini harus kita terima, kadang-kadang kita orang tua masih belum mau menerima anak kita sudah menjadi sosok manusia yang mulai mandiri, dan sebentar lagi tidak membutuhkan kita 🙂

Apabila ingin anak kita melewati masa remaja nya dengan hal-hal yang positif dan berguna untuk masa depannya kelak, maka kita perlu mempersiapkan diri (terutama secara mental), antara lain:

  • Mencari tau (browsing di internet, membaca buku, blogging, atau diskusi dengan orang tua yang memiliki anak usia remaja) tentang problematika dan perubahan-perubahan yang terjadi pada anak usia remaja
  • Berikan edukasi sex dari sebelum mereka masuk ke masa pubertas, sehingga mereka tidak bingung saat mengalaminya dan tau apa yang harus dilakukan
  • Belajar lebih sabar dan bijak dalam menghadapi anak, yang akan menjadi lebih kritis dan lebih banyak “melawan” saat berkomunikasi dengan kita, lebih banyak lah mendengarkan ketika anak kita berbicara
  • Buat suasana rumah yang nyaman, agar anak merasa betah di rumah dan tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di luar rumah
  • Ciptakan hubungan yang bersahabat dan menyenangkan dengan anak, tidak bersikap judgemental bila anak bercerita tentang dirinya atau teman-temannya, sehingga mereka merasa nyaman untuk bercerita dan terbuka dengan kita
  • Memotivasi anak agar lebih banyak melakukan aktivitas positif, seperti berenang bersama, atau memberikan kursus-kursus olah raga, bahasa, seni, alat musik, dll
  • Melatih anak untuk mandiri, misal dengan memintanya untuk membuat jadwal aktivitasnya sendiri, mengatur waktu sendiri, membuat cek list tugas-tugasnya, dll
  • Ingatkan kembali tentang life lessons yang pernah kita sampaikan kepada nya di usia golden age nya dulu, dan ditambah dengan nilai-nilai hidup yang baik atau filosofi-filosofi yang dulu mungkin belum bisa dia pahami
  • Melakukan pengawasan secara proporsional, artinya jangan sampai anak merasa kita terlalu mengekangnya atau tidak memberikan privacy sama sekali (kita juga perlu menghormati privacyanak). Bila kita ingin memeriksa telepon genggam anak katakan ke mereka bahwa kita akan mengecek handphone nya secara berkala yang tujuannya agar kita bisa mengenal siapa-siapa saja dan seperti apa teman-temannya, karena kita belum tentu bertemu langsung dengan mereka. Dengan memberitahukan  berarti juga kita sudah izin dari sejak awal J
  • Setiap memberikan nasehat atau menyuruh mereka melakukan tugas atau apapun selalu sertakan alasan dan sebabnya atau rasionalnya, sehingga anak mengerti kenapa dia harus melakukan itu dan cara berpikirnya dibiasakan dengan menggunakan logika dan rasional
  • Konsisten dalam memberikan aturan dan konsekwensi. Dan sangat penting untuk selalu mengatakan bahwa kita melakukan ini semua karena kita sangat menyayangi mereka. Kita ingin mereka menjadi manusia yang baik dan bahagia dalam hidupnya, terutama saat mereka nanti sudah harus hidup sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *