Articles

ADDICTED TO INTERNET PADA ANAK (GAMES, YOUTUBE, SOCMEDS)

Lebih kurang setahun belakangan ini kita sering mendengar istilah anak millennials atau anak jaman now. Anak millennials adalah istilah yang dilabelkan untuk anak-anak yang lahir di pertengahan tahun 1980 sampai dengan 2000. Jadi kisaran umurnya saat ini (tahun 2018) adalah 35-18 tahun. Generasi millennial disebut juga generasi Y, karena mereka yang lahir setelah generasi X. Untuk anak-anak kita yang saat ini kisaran usianya 0-17 tahun, masih termasuk dalam generasi millenial alias generasi Y kah atau sudah bisa dikategorikan sebagai anak-anak generasi Z? Z refers to Zombie? Karena anak-anak sekarang terlalu asik dengan gadget mereka sehingga cenderung menjadi malas dan bersikap apatis terhadap sekelilingnya, bagaikan zombie. Maaf ini hanya intermezzo sedikit 🙂

Apapun istilahnya yang pasti anak-anak kita sekarang hidup di era revolusi digital, bahwa kita sudah berada dalam suatu ekosistem digital. Segala aktivitas kita sehari-hari hampir semua menggunakan elektronik digital masa kini, seperti smartphone, televisi digital, computer, dll yang bisa saling terhubung satu sama lain. Sistem pembayaran kalau kita berbelanja, membayar parkir atau toll sudah menggunakan digital money. Banyak aspek kehidupan yang sudah berubah secara sistemik, seperti bisnis perdagangan retail sekarang sudah dikuasai oleh e-commerce, lalu media informasi saat ini orang lebih terbiasa dan merasa lebih mudah dengan mengaksesnya melalui e-news, atau media sosial yang sekarang banyak sekali elektronik media sosial yang ditawarkan untuk kita bisa berkomunikasi satu sama lain, bahkan dengan orang dari berbagai negara.

Dengan kemajuan teknologi seperti ini maka pasti berdampak pada gaya hidup kita maupun anak-anak kita. Mudahnya mengakses informasi dan internet membuat anak-anak menjadi sangat “lengket” dengan gadget mereka, apakah itu personal computersmartphone, tablet ataupun laptop. Kemudian hal ini menjadi dilemma buat orang tua. Dengan perubahan gaya hidup saat ini rasanya hampir tidak mungkin kita tidak mengenalkan internet dan smartphone kepada anak kita yang sudah beranjak remaja. Di sisi lain apabila kita mengenalkan atau memberikan mereka smartphone kita kuatir mereka menjadi addicted (kecanduan). Mereka bisa addicted terhadap berbagai games (mobile legends, fortnight, dll) yang buat mereka sangat seru dan menantang, atau addicted terhadap berbagai video menarik di youtube (anak saya sejak beberapa bulan ini mulai menunjukkan gejala addicted menonton video-video anime atau vocaloid. Sebelumnya menonton youtuber-youtuber luar negeri yang bernama Pewdiepie, Smoosh, dll), atau addicted bermain social media (instagram, musically, facebook, whatsapp, dll). Belum lagi kekuatiran kita soal konten dari apa yang mereka akses, apakah sesuai dengan usia mereka, apakah ada konten kekerasan, pornografi, dll.

Menurut seorang psychologist pakar Kecanduan Internet atau Internet Addiction Disorder (IAD) dari Amerika Serikat bernama Dr. Kimberly Young, gejala dari IAD antara lain:

  1. Pikiran pecandu internet terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan ke arah lain
  2. Penggunaan waktu untuk berinternet yang cenderung terus bertambah atau kecenderungan untuk tetap online melebihi waktu yang sudah disepakati/ditentukan
  3. Menjadi iritatif atau cepat tersinggung, ngambeg atau marah ketika orang tua berusaha menghentikan penggunaan internet
  4. Cenderung mulai sering berbohong, untuk menutupi kelebihan batas waktu penggunaan internet, atau mencuri-curi waktu
  5. Cenderung tidak peduli dengan sekelilingnya, menjadi lebih malas, dan kurang bertanggung jawab (karena sebagian besar waktu digunakan untuk berinternet)
  6. Aktivitas berinternet digunakan sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif seperti rasa bersalah, kecemasan, depresi, dan sebagainya.

Kimberly Young memberikan guidance untuk penggunaan internet menurut usia, sebagai berikut:

  • Birth – 3 years: Never
  • 3 – 6 years: One hour a day/Supervised
  • 6 – 9 years: Two hours a day
  • 9 — 12 years: Two hours a day/some independence on social media
  • 12 – 18 years: Independence/Digital Diet (digital diet adalah bagaimana kita mengontrol atau membatasi diri kita dalam penggunaan smartphone/digital gadget/berinternet)

Saya sharing sedikit mengenai aturan yang saya berlakukan untuk anak saya yang berusia 12 tahun. Awalnya saya memberikan dua pilihan jadwal berinternet pada anak saya, yaitu setiap harinya dijatah 2 jam waktu internetan, atau non internet selama weekdays (kecuali kalau ada tugas sekolah yang membutuhkan komputer/internet) lalu di hari Sabtu bisa sepanjang hari internetan, dengan catatan istirahat 30 menit tiap 2 jam).  Sementara hari Minggu adalah waktu untuk anak saya menghabiskan waktu dengan saya atau keluarga. Dan dia memilih pilihan kedua yaitu tidak internetan selama hari sekolah, di hari Sabtu dari pagi jam 10 sampai malam jam 10 dia bebas berinternet dengan istirahat tiap 2 jam sekali.

Kecanduan pada internet bisa memberi dampak kerusakan pada tiga fungsi penting dalam diri seseorang (anak dalam hal ini), yaitu fungsi pengendalian perasaan dan emosi (menjadi iritatif dan temperamental), fungsi akademis (nilai-nilai dan prestasi sekolah menurun karena sulit berkonsentrasi dan tidak fokus), dan fungsi relasi/pertemanan (sebagian besar waktu digunakan untuk berinternet). Dengan kata lain, kecanduan internet berpotensi melumpuhkan kepribadian individu.

Sedangkan dampak bagi kesehatan yaitu membuat otot-otot mata cepat lelah dan mata kering, pajanan blue light yang terus-menerus bisa merusak retina mata, ketegangan pada otot-otot leher dan punggung, carpal tunnel syndrome (penyakit persendian tangan karena terlalu lama dan sering menggunakan keyboard dan mouse), dalam jangka waktu panjang bisa menimbulkan gangguan ginjal (kurang cairan/ minum air putih), ambeien (aktivitas sehari-hari duduk lama).

Namun kita semua pasti juga menyadari bahwa internet selain membawa dampak negatif juga membawa banyak dampak positif jika kita menggunakannya dengan benar. Misalnya untuk membantu memudahkan kita mengerjakan tugas, mencari informasi, hiburan, bahkan melalui internet kita juga bisa menghasilkan uang. Oleh karena itu kita harus mempergunakan internet secara bijak.

Sebagai orang tua kita dapat mengatasi kecanduan internet ini dengan beberapa cara, seperti:

  • Memberikan kegiatan/aktivitas tambahan sepulang anak dari sekolah
  • Bersama-sama anak mengatur waktu (kita perlu melibatkan anak agar dia merasa diperlakukan adil dan akan lebih patuh dengan aturan yang dibuat bersama), misal dalam satu hari boleh menggunakan internet selama 2 jam dari jam 4-6 sore, apabila anak melanggar kesepakatan maka konsekwensinya adalah untuk besok waktu berinternetnya dihilangkan. Dan kita wajib konsisten dengan aturan yang kita buat, agar anak tau bahwa kita menganggap hal ini penting dan dia tidak mengulanginya
  • Mengajak anak untuk membaca gejala dan dampak dari internet addiction, agar anak tau bahwa kita tidak ingin mereka menjadi seperti itu, kita sayang dan peduli dengan mereka, karena itu kita perlu membuat aturan untuk mencegah dampak itu terjadi
  • Memblokir situs-situs yang berkonten pornografi dan kekerasan
  • Memperhatikan apa yang sering ditonton atau dikerjakan anak saat sedang berinternet, sehingga kita bisa mengontrolnya sekaligus juga bisa menjalin kedekatan dengan anak, karena kita bisa “nyambung” saat ngobrol dengan mereka soal kesenangannya
  • Menjalin hubungan yang lebih akrab dengan anak, membuat waktu spesial bersama, sehingga anak lebih terbuka dengan kita dan tidak menjadikan internet sebagai tempat pelarian apabila anak punya masalah atau sedang stress.

Topik mengenai kecanduan internet ini memang sekarang sangat populer, karena hampir semua anak mulai dari usia sekolah dasar sampai remaja terserang oleh gejala ini dan susah untuk dihindari, karenanya menjadi momok utama bagi banyak orang tua. Semoga apa yang saya sampaikan di atas bisa sedikit membantu ya. Dan apabila ada hal-hal terkait topik ini yang ingin dibahas lebih lanjut silakan berikan masukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *